Sabtu, 07 Juni 2014

jurnal pendidikan



 PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN STRATEGI CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING PADA SISWA
KELAS XI IA SMA INS KAYUTANAM




JURNAL



STKIP.jpg




YULIARLIS
NPM 08.10.010.716.058



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
YAYASAN DHARMA BAKTI LUBUK ALUNG
2012

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF DENGAN STRATEGI CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING PADA SISWA
KELAS XI IA SMA INS KAYUTANAM
YULIARLIS
ABSTRAK
Sistem mengajar guru yang bersifat teacher centre, tidak melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran fisika. Hal ini menyebabkan pelajaran fisika kurang diminati siswa, sehingga hasil belajar yang mereka peroleh rendah. Untuk memperbaiki keadaan ini, guru harus mampu menciptakan kondisi yang menjadikan siswa aktif dalam kegiatan belajar. Salah satunya dengan menerapkan pembelajaran kooperatif dengan strategi contextual teaching and learning. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan pembelajaran kooperatif dengan strategi contextual teaching and learning pada siswa kelas XI IA SMA INS kayutanam, dengan Jenis penelitian pra-eksperimen, dengan rancangan randomized control-group only design. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XI IA SMA INS kayutanam yang terdaftar pada tahun ajaran 2011/2012, dengan teknik sampel total sampling. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji t. Berdasarkan hasil penelitian di ketahui bahwa thitung = 2.04 dan ttabel = 2.02 dengan, karena th > tt tidak terdapat penerimaan Ho dan Hi diterima. Hal ini berarti penerapan pembelajaran kooperatif dengan strategi contextual teaching and learning memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar fisika siswa.
ABSTRACT
The system in teaching process center from the teachers, does not involve students actively in the learning of physics. This leads to less desirable physics students, so the learning outcomes they get low. To rectify this situation, the teacher must be able to create the conditions that make students actively in learning activities. One way to implement cooperative learning with contextual teaching and learning strategies. This study aim to determined the effect of implementation of cooperative learning with contextual teaching and learning strategies at high school students of class XI IA INS kayutanam, the type of pre-experimental research, the design of randomized control-group design only. Population was all high school students of class XI IA INS kayutanam enrolled in the academic year 2011/2012, with a total sample sampling technique. Data were analyzed using t test. Based on the results of research to know that th = 2.04 and = 2.02 with tt, because th> tt there is no acceptance of Ho and Hi accepted. This means that the implementation of cooperative learning with contextual teaching and learning strategies have a significant effect on learning outcomes of students of physic.

PENDAHULUAN
Membangun suatu bangsa kearah yang lebih baik sangat di perlukan adanya sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya manusia yang berkualitas akan menjadi tumpuan utama dari suatu bangsa agar dapat berkompetensi dalam dunia global. Pendidikan sains atau Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu wahana untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, Fisika merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang penting untuk perkembangan sains dan teknologi yang dibutuhkan dalam pembangunan peranan fisika yang begitu pentingnya, berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan fisika. Usaha yang telah di lakukan pemerintah adalah melakukan pengembangan kurikulum. Dari kurikulum 1994 sampai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dan  meningkatkan kompetensi guru melaluai pelatihan guru dan penataan tentang KTSP. Di samping usaha yang di lakukan pemerintah, guru sebagai pendidik juga berupaya meningkatkan hasil pembelajaran dengan peningkatkan kualitas strategi pembelajaran yang tepat. Berdasarkan wawancara peneliti dengan guru fisika kelas XI IPA SMA   INS Kayutanam pada pertengahan semester II Tahun 2011/2012, di peroleh informasi bahwa nilai harian fisika siswa kelas XI SMA ITI INS Kayutanam masih rendah dan belum mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) yang di tetapkan (KKM = 75).  Hal ini disebabkan karena proses pembelajaran siswa yang masih terpusat pada guru, sebagian besar siswa hanya menunggu apa yang di berikan guru,  Siswa belum mampu mengontruksikan pikiran mereka. Mereka juga belum bisa menentukan tujuan pembelajaran sehingga siswa tidak mampu menghubungkan pelajaran dengan kehidupan yang nyata. Guru telah melakukan usaha untuk mengaktifkan atau melibatkan siswa secara langsung proses pembelajaran dan di harapkan siswa mampu menghubungkan antara materi yang sedang di pelajari dengan dunia nyata siswa. Akan tetapi sebagian siswa masih belum aktif dan belum mampu mengaitkan materi dengan kehidupan sehari – sehari. Hal ini disebabkan karena kurang bervariasinya strategi pembelajaran, sehingga sebagian besar siswa jenuh, malas dan bosan dengan strategi pembelajaran yang di berikan guru. Akibatnya siswa yang aktif akan semakin aktif dan yang kurang aktif akan tertinggal. Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar menciptakan interaksi yang silih asah sehingga sumber belajar bagi siswa  bukan hanya guru dan buku ajar tetapi juga sesama ciri-ciri pembelajaran kooperatif menurut Ibrahim (2002:6) yaitu:
a.       Siswa bekerja sama dalam kelompok secara kooperatif untuk menentukan hasil belajarnya
b.      Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang lebih tinggi, sedang dan rendah
c.       Pengalaman lebih berorientasi kelompok dari individu
 Menurut Jahnson (2002 : 67) dalam Dharma kesuma (2010 : 13) menyatakan bahwa:
CTL  adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan untuk menolong para siswa malihat makna dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan materi tersebut dengan konteks kehidupan harian mereka yaitu dengan konteks pribadi, sosial, dan budaya mereka. Untuk mencapai tujuan ini sistim tersebut meliputi delapan komponen sebagai berikut: membuat hubungan–hubungan yang bermakna, melakukan pekerjaan yang berarti, malaksanakan proses pembelajaran yang diutus sendiri, bekerja sama, berpikir kritis dan kreatif, membantu individu untuk tumbuh dan berkembng, mencapai standar tinggi dan menggunakan penilaian autentik.

METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian pra eksperimen. Rancangan penelitian ini tergolong bentuk Randomized Control Group Only Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas XI IA SMA INS Kayutanam pada Tahun Ajaran 2011/2012 dengan sampel XI IA1  dan XI IA2. Teknik pengambilan sampel total sampling. Mengumpulkan data nilai ulangan harian semester II fisika siswa kelas XI IA SMA kayutanam, setelah itu dilakukan uji normalitas, uji homogenitas, dan uji kesamaan dua rata-rata.
Tahap pelaksanaan penelitian
            Tahap pelaksanaan penelitian pada kelas eksperimen diterapkan pembelajaran kooperatif dengan strategi contextual teaching and learning, sedangkan pada kelas kontrol tidak. Skenario pembelajaran kelas sampel dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. skenario pembelajaran pada kelas sampel
Kelas Eksperimen
Kelas Kontrol
A.    Kegiatan awal (10 menit )
1.      Guru mengucapkan salam dan mengecek kehadiran siswa.
2.      Guru menanyakan kesiapan siswa untuk belajar dan kesiapan alat-alat belajar serta memeriksa kebersihan dan kerapian siswa.
3.      Guru menjelaskan tujuan pembelajaran serta indikator yang ingin dicapai.
4.      Guru memberikan apersepsi tentang gas ideal.
5.      Guru memberikan motivasi kepada siswa.
6.      Guru menginformasikan pembelajaran kooprratif dengan strategi contextual teaching and learning.
  1. Kegiatan awal (10 menit )
1.      Guru mengucapkan salam dan mengecek kehadiran siswa.
2.      Guru menanyakan kesiapan siswa untuk belajar dan kesiapan alat-alat belajar serta memeriksa kebersihan dan kerapian siswa.
3.      Guru menjelaskan tujuan pembelajaran.
4.      Guru memberikan apersepsi tentang gas ideal.
5.      Guru memberikan motivasi kepada siswa.
6.      Guru menjelaskan secara umum tentang materi yang akan dipelajari.


B.     Kegiatan Inti (70 menit)
      Eksplorasi (Tahap Eksplorasi)
1.      Guru bertanya kepada siswa tentang termodinamika
2.      Guru bertanya kepada siswa tentang proses apa saja yang terdapat pada termodinamika (bertanya)
      Elaborasi (Tahap Pemfokusan)
3.      Guru memberikan materi pada masing-masing kelompok
4.      Guru membimbing siswa dalam berdiskusi dengan anggota kelompoknya secara efektif (kontruktivisme) 
Tahap Tantangan
5.      Adanya kegiatan inquiri dimana siswa menemukan sendiri konsep/rumusan
6.      Guru mempersilahkan masing-masing kelompok untuk presentasi sesuai dengan urutan tiap-tiap kelompok (masyarakat belajar).
7.      Guru menciptakan suasana yang hangat dan menyenangkan pada saat proses diskuisi berlangsung. Seperti adanya kegiatan bertanya antar siswa, siswa keguru dan guru kesiswa (pemodelan).
8.      Guru memperhatikan proses diskusi.
Konfirmasi
9.      Guru melaksanakan reflesi pada akir pertemuan
B.     Kegiatan Inti (70 menit)
Eksplorasi
1.      Guru menerangkan materi, dimana dalam mengajar guru berusaha membimbing dan mengarahkan siswa agar mengerti dengan materi yang diajarkan.
2.      Siswa diberi contoh soal sebagai pemantapan materi yang diperlukan.
3.      Guru memberikan kesempatan untuk siswa agar bertanya bila ada yang belum dimengerti dalam mengerjakan soal.


Elaborasi
4.      Siswa menjawab soal latihan, dan soal pun diselesaikan secara bersama-sama oleh guru dan siswa.
Konfirmasi
5.      Guru menanyakan kembali pada siswa tentang materi yang belum dimengerti dan memberikan arahan serta bimbingan kepada siswa bila masih ada materi yang belum dipahami siswa.
C.    Kegiatan Akhir           (20 menit)
1.      Guru dan siswa bersama-sama menarik kesimpulan tentang materi yang dipelajari.
2.      Guru memberikan pujian dan penghargaan
     Tahap Penerapan
3.      Guru Memberikan kuis
C.   Kegiatan Akhir          (20 menit)
1.      Guru dan siswa bersama-sama menarik kesimpulan tentang materi yang dipelajari.

DATA DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Data
kelas eksperimen dan kelas kontrol yang masing-masing diikuti oleh 23 dan 21 orang siswa. Tes akhir yang diberikan berbentuk objektif sebanyak 25 butir soal. Hasil belajar siswa dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2: hasil belajar tes akhir
No
Kelas
N
Nilai terendah
Nilai tertinggi
S
S2
1
Eksperimen
23
50
96
76.17
13.15
173.06
2
Kontrol
21
46
80
69.43
10.22
104.46

Analisis Data
1.      Uji normalitas
Untuk mengetahui apakah sampel terdistribusi normal atau tidak maka digunakan uji lilifors. Dari pengujian yang dilakukan diperoleh harga Lo dan Lt untuk kedua sampel pada taraf α = 0.05 sebagaimana terlihat pada tabel 3.
Tabel 3: harga Lo dan Lt hasil tes akhir
No
Kelas
N
Lo        
Lt
Keterangan
1
Eksperimen
23
0.1067
0.151948
Diterima
2
Kontrol
21
0.1515
0.190
Diterima

     Dari tabel diatas terlihat bahwa Lo pada kedua kelas sampel kecil dari Ltabel, sehingga dapat disimpulkan bahwa data populasi kelas eksperimen terdistribusi normal.
2.    Uji homogenitas
Dengan menggunakan persamaan homogenitas, dilakukan uji F. Seperti dilihat pada tabel 3.
Tabel 3: harga Fhitung dan Ftabel
Kelas
N
S2
Fhitung
Ftabel
Keterangan
Eksperimen
23
173.06
1.66
2.12
Homogen
Kontrol
21
129.84
1.66
2.12
Homogen

Dari tabel dapat dilihat harga Fhitung = 1.33, sedangkan harga Ftabel yang didapat adalah F (0.05)(22,20) = 2.12. karena Fhitung lebih kecil dari pada Ftabel sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua kelas sampel mempunyai varians yang homogen.
3.      Uji hipotesis
 Uji hipotesis dengan menggunakan uji-t, kriteria pengujian ini adalah hipotesis nol (Ho) diterima apabila th < tt  dan hipotesis nol (Ho) ditolak apabila th > tt. 
Hasil uji t yang diperoleh thitung = 2.04 sedangkan harga ttabel pada taraf nyata 0,05 dan dk = 42 didapat t(0,975)(42) = 2.02. Berdasarkan kriteria pengujian hipotesis yaitu terima Ho jika berada pada – t (1 – 1/2)(dk) < thitung< t(1 – 1/2)(dk). Harga thitung yang diperoleh tidak berada pada daerah penerimaan Ho sehingga Ho ditolak dan Hi diterima.

PEMBAHASAN
          Dari hasil analisis data tes akhir terlihat bahwa nilai rata-rata pada kelas eksperimen adalah 76.17 dan kelas kontrol 69.43 ditinjaun dari segi ketuntasan belajar siswa secara rata-rata, hasil belajar siswa pada kedua kelas sampel sudah berada diatas nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan pihak sekolah yaitu 75.00 hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan penerapan pembelajaran kooperatif dengan strategi contextual teaching and learning juga dapat menuntaskan hasil belajar siswa. ini berarti bahwa hasil belajar kelas eksperimen lebih baik dari pada hasil belajar kelas kontrol.
             Kedua kelas sampel berasal dari populasi yang normal dan homogen sehingga untuk uji statistik yang digunakan adalah uji t. Setelah dilakukan pengujian hipotesis melalui uji t diperoleh harga thitung = 2.04 sedangkan nilai ttabel  pada tabel distribusi t dengan taraf nyata 0,05 dan dk = 42, diperoleh ttabel = 2,02 berarti thitung berada diluar daerah penerimaan HO, sehingga HO ditolak dan H1 diterima. Ini berarti hipotesis “Terdapat pengaruh yang berarti penerapan pembelajaran kooperatif dengan Strategi contextual teaching and learning pada siswa kelas XI IA SMA INS kayutanam pada ranah kognitif, diterima. Dengan kata lain, terdapat pengaruh yang berarti penerapan pembelajaran kooperatif dengan Strategi contextual teaching and learning pada  siswa kelas XI IA SMA  INS kayutanam. Diterimanya hipotesis kerja (HI) dalam penelitian ini, mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar kedua kelas sampel pada taraf nyata 0.05. Dan perbedaan tersebut disebabkan karena adanya pengaruh perlakuan yang diberikan pada kelas eksperimen.
   Tingginya hasil belajar siswa di kelas eksperimen disebabkan oleh siswa yang semakin aktif selama proses belajar mengajar berlangsung. Semua siswa akan mempunyai tugas masing – masing sehingga semua siswa akan terlibat dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran dengan strategi ini, siswa memiliki tingkat keaktifan yang lebih tinggi. Karena mereka telah mempelajari terlebih dahulu topik yang akan dibahas, sehingga mereka lebih siap untuk belajar. Disamping itu, mereka akan saling bertukar fikiran dengan anggota kelompoknya, demi keberhasilan kelompoknya yang berkaitan dengan materi pelajaran  yang sedang disajikan. Selain itu, mereka mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan sendiri, mengupayakan pemecahan atas permasalahan yang diajukan guru, dan tertarik untuk mendapatkan informasi atau  menguasai keterampilan guru menyelesaikan tugas yang diberikan kepada mereka. 

PENUTUP
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, diperoleh nilai rata – rata hasil belajar fisika untuk kelas eksperimen yaitu 76.17 sedangkan nilai rata-rata untuk kelas kontrol yaitu 69.43. Ini menunjukkan hasil belajar fisika yang pembelajarannya menerapkan pembelajaran kooperatif dengan strategi contextual teaching and learning  lebih baik dari hasil belajar yang pembelajarannya tidak menerapkan pembelajaran kooperatif dengan strategi contextual teaching and learning pada siswa kelas XI IA SMA INS kayutanam, karena Hi diterima dengan α = 0.05 dapat disimpulkan bahwa “terdapat pengaruh penerapan pembelajaran kooperatif dengan strategi contextual teaching and learning pada siswa kelas XI IA SMA INS kayutanam. Penulis memberikan saran pada peneliti agar  guru bidang studi fisika di SMA INS kayutanam  pada khususnya, dan di sekolah lain pada umumnya untuk dapat menerapkan pembelajaran kooperatif dengan strategi CTL sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan hasil belajar fisika siswa dan mengaktifkan siswa dalam belajar.
UCAPAN TERIMAKASIH
            Penulis mengucapkan terimakasih kepada Ibu Lelfita, S.Pd, M.Pd sebagai pembimbing 1, Bapak Harman Amir, M.Si sebagai pembimbing 2 dan Ibu Reni Fatma Yunita S.Pd  sebagai guru mata pelajaran Fisika SMA INS Kayutanam.
DAFTAR PUSTAKA
Kesuma, dharma, dkk. 2010. Contextual teaching and learning. Bandung : raharyasa univetsitas pendidikan Indonesia.
Lie, anita. 2002. cooperative learning. Jakarta: PT Grasindo.
Sanjaya, wina. 2008. Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Jakarta: kencana.
Sudjana, Nana. 2009. Dasar-dasar proses belajar mengajar. Bandung: Tarsito
Wena, made.2011. strategi pembelajaran inovatif kontemporer. Jakarta: Bumi Aksara.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar