|
KELAS XI IA SMA INS KAYUTANAM
JURNAL

YULIARLIS
NPM 08.10.010.716.058
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
YAYASAN DHARMA BAKTI LUBUK ALUNG
2012
PENERAPAN PEMBELAJARAN
KOOPERATIF DENGAN STRATEGI CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING PADA
SISWA
KELAS XI IA SMA INS
KAYUTANAM
YULIARLIS
ABSTRAK
Sistem mengajar guru yang bersifat teacher
centre, tidak melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran fisika. Hal
ini menyebabkan pelajaran fisika kurang diminati siswa, sehingga hasil belajar
yang mereka peroleh rendah. Untuk memperbaiki keadaan ini, guru harus mampu
menciptakan kondisi yang menjadikan siswa aktif dalam kegiatan belajar. Salah
satunya dengan menerapkan pembelajaran kooperatif dengan strategi contextual teaching and learning. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh penerapan pembelajaran kooperatif dengan strategi contextual teaching and learning pada siswa kelas XI IA SMA INS
kayutanam, dengan Jenis penelitian
pra-eksperimen, dengan rancangan randomized control-group only design. Populasi penelitian adalah seluruh siswa
kelas XI IA SMA INS kayutanam yang terdaftar pada tahun ajaran 2011/2012,
dengan teknik sampel total sampling. Data yang diperoleh dianalisis dengan
menggunakan uji t. Berdasarkan hasil penelitian di ketahui bahwa thitung =
2.04 dan ttabel = 2.02 dengan, karena th > tt
tidak terdapat penerimaan Ho dan Hi diterima. Hal ini
berarti penerapan pembelajaran kooperatif dengan strategi contextual teaching
and learning memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar
fisika siswa.
The
system in teaching process center from the teachers, does not involve students
actively in the learning of physics. This leads to less desirable physics
students, so the learning outcomes they get low. To rectify this situation, the
teacher must be able to create the conditions that make students actively in
learning activities. One way to implement cooperative learning with contextual
teaching and learning strategies. This study aim to determined the effect of
implementation of cooperative learning with contextual teaching and learning
strategies at high school students of class XI IA INS kayutanam, the type of
pre-experimental research, the design of randomized control-group design only.
Population was all high school students of class XI IA INS kayutanam enrolled
in the academic year 2011/2012, with a total sample sampling technique. Data
were analyzed using t test. Based on the results of research to know that th
= 2.04 and = 2.02 with tt, because th> tt there
is no acceptance of Ho and Hi accepted. This means that the implementation of
cooperative learning with contextual teaching and learning strategies have a
significant effect on learning outcomes of students of physic.
PENDAHULUAN
Membangun
suatu bangsa kearah yang lebih baik sangat di perlukan adanya sumber daya
manusia yang berkualitas. Sumber daya manusia yang berkualitas akan menjadi
tumpuan utama dari suatu bangsa agar dapat berkompetensi dalam dunia global. Pendidikan
sains atau Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu wahana untuk
membangun sumber daya
manusia yang berkualitas dan mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, Fisika merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang
penting untuk perkembangan sains dan teknologi yang dibutuhkan dalam
pembangunan peranan fisika yang begitu pentingnya,
berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan fisika. Usaha
yang telah di lakukan pemerintah adalah melakukan pengembangan kurikulum. Dari
kurikulum 1994 sampai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dan meningkatkan kompetensi guru melaluai
pelatihan guru dan penataan tentang KTSP. Di samping usaha yang di
lakukan pemerintah, guru sebagai pendidik juga berupaya meningkatkan hasil
pembelajaran dengan peningkatkan kualitas strategi
pembelajaran yang tepat. Berdasarkan wawancara peneliti dengan guru fisika
kelas XI IPA SMA INS
Kayutanam pada pertengahan semester II
Tahun 2011/2012, di peroleh informasi
bahwa nilai harian fisika siswa kelas XI SMA ITI INS Kayutanam masih rendah dan belum
mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) yang di tetapkan (KKM = 75). Hal
ini disebabkan karena proses pembelajaran siswa yang masih terpusat pada
guru, sebagian besar siswa hanya menunggu apa yang di berikan guru, Siswa belum mampu mengontruksikan pikiran
mereka. Mereka juga belum bisa menentukan tujuan pembelajaran sehingga siswa
tidak mampu menghubungkan pelajaran dengan kehidupan yang nyata. Guru telah
melakukan usaha untuk mengaktifkan atau melibatkan siswa secara langsung proses
pembelajaran dan di harapkan siswa mampu menghubungkan antara materi yang
sedang di pelajari dengan dunia nyata siswa. Akan tetapi sebagian siswa masih
belum aktif dan belum mampu mengaitkan materi dengan kehidupan sehari – sehari. Hal ini disebabkan karena kurang bervariasinya strategi pembelajaran, sehingga sebagian besar siswa jenuh, malas dan
bosan dengan strategi pembelajaran yang di berikan guru. Akibatnya siswa yang aktif akan
semakin aktif dan yang kurang aktif akan tertinggal.
Pembelajaran
kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar menciptakan interaksi yang silih asah sehingga sumber
belajar bagi siswa bukan hanya guru dan
buku ajar tetapi juga sesama ciri-ciri pembelajaran kooperatif menurut Ibrahim
(2002:6) yaitu:
a. Siswa
bekerja sama dalam kelompok secara kooperatif untuk menentukan hasil belajarnya
b. Kelompok
dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang lebih tinggi, sedang dan
rendah
c. Pengalaman
lebih berorientasi kelompok dari individu
Menurut Jahnson (2002 : 67) dalam Dharma kesuma (2010 :
13) menyatakan bahwa:
CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan
untuk menolong para siswa malihat
makna dalam materi akademik
yang mereka pelajari dengan
cara menghubungkan
materi tersebut dengan konteks kehidupan harian mereka yaitu dengan konteks
pribadi, sosial,
dan budaya mereka. Untuk mencapai tujuan ini sistim
tersebut meliputi delapan
komponen sebagai berikut:
membuat
hubungan–hubungan yang bermakna, melakukan pekerjaan yang berarti,
malaksanakan proses pembelajaran
yang diutus sendiri, bekerja sama,
berpikir
kritis dan kreatif, membantu individu untuk tumbuh dan berkembng, mencapai
standar tinggi dan menggunakan penilaian autentik.
METODE
PENELITIAN
Jenis
penelitian yang digunakan adalah penelitian pra eksperimen. Rancangan penelitian ini tergolong bentuk Randomized
Control Group Only Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas XI
IA SMA
INS Kayutanam pada Tahun Ajaran 2011/2012 dengan sampel XI IA1 dan XI IA2.
Teknik pengambilan sampel total sampling. Mengumpulkan data nilai ulangan harian semester II
fisika siswa kelas XI IA SMA kayutanam, setelah itu dilakukan uji normalitas,
uji homogenitas, dan uji kesamaan dua rata-rata.
Tahap
pelaksanaan penelitian
Tahap pelaksanaan penelitian pada
kelas eksperimen diterapkan pembelajaran kooperatif dengan strategi contextual teaching and learning,
sedangkan pada kelas kontrol tidak. Skenario pembelajaran kelas sampel dapat
dilihat pada tabel 1.
Tabel
1. skenario pembelajaran pada kelas sampel
|
Kelas Eksperimen
|
Kelas Kontrol
|
|
A. Kegiatan
awal (10
menit )
1.
Guru mengucapkan salam dan
mengecek kehadiran siswa.
2.
Guru menanyakan kesiapan
siswa untuk belajar dan kesiapan alat-alat belajar serta memeriksa kebersihan
dan kerapian siswa.
3.
Guru menjelaskan tujuan
pembelajaran serta indikator yang ingin dicapai.
4.
Guru memberikan apersepsi tentang gas ideal.
5.
Guru memberikan motivasi
kepada siswa.
6.
Guru menginformasikan pembelajaran
kooprratif dengan strategi contextual teaching
and learning.
|
1. Guru
mengucapkan salam dan mengecek kehadiran siswa.
2. Guru
menanyakan kesiapan siswa untuk belajar dan kesiapan alat-alat belajar serta
memeriksa kebersihan dan kerapian siswa.
3. Guru
menjelaskan tujuan pembelajaran.
4. Guru
memberikan apersepsi tentang gas ideal.
5. Guru
memberikan motivasi kepada siswa.
6. Guru
menjelaskan secara umum tentang materi yang akan dipelajari.
|
|
B. Kegiatan
Inti (70
menit)
Eksplorasi (Tahap Eksplorasi)
1.
Guru bertanya kepada siswa
tentang termodinamika
2.
Guru
bertanya kepada siswa tentang proses apa saja yang terdapat pada termodinamika (bertanya)
Elaborasi
(Tahap Pemfokusan)
3.
Guru memberikan
materi pada masing-masing kelompok
4.
Guru membimbing siswa dalam
berdiskusi dengan anggota
kelompoknya secara efektif (kontruktivisme)
Tahap
Tantangan
5.
Adanya kegiatan inquiri
dimana siswa menemukan sendiri konsep/rumusan
6. Guru mempersilahkan masing-masing kelompok untuk presentasi sesuai
dengan urutan tiap-tiap kelompok (masyarakat belajar).
7.
Guru menciptakan suasana
yang hangat dan menyenangkan pada saat proses
diskuisi berlangsung.
Seperti adanya kegiatan bertanya antar siswa, siswa keguru dan guru kesiswa
(pemodelan).
8.
Guru
memperhatikan proses diskusi.
Konfirmasi
9.
Guru melaksanakan
reflesi pada akir pertemuan
|
B. Kegiatan
Inti (70
menit)
Eksplorasi
1.
Guru
menerangkan materi, dimana dalam mengajar guru berusaha membimbing dan
mengarahkan siswa agar mengerti dengan materi yang diajarkan.
2.
Siswa
diberi contoh soal sebagai pemantapan materi yang diperlukan.
3.
Guru
memberikan kesempatan untuk siswa agar bertanya bila ada yang belum
dimengerti dalam mengerjakan soal.
Elaborasi
4.
Siswa
menjawab soal latihan, dan soal pun diselesaikan secara bersama-sama oleh
guru dan siswa.
Konfirmasi
5.
Guru
menanyakan kembali pada siswa tentang materi yang belum dimengerti dan
memberikan arahan serta bimbingan kepada siswa bila masih ada materi yang
belum dipahami siswa.
|
|
C. Kegiatan
Akhir (20 menit)
1. Guru dan siswa bersama-sama menarik kesimpulan tentang materi yang dipelajari.
2. Guru memberikan pujian dan penghargaan
Tahap Penerapan
3. Guru
Memberikan kuis
|
C. Kegiatan
Akhir (20 menit)
1. Guru
dan siswa bersama-sama menarik kesimpulan tentang materi yang dipelajari.
|
DATA
DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Data
kelas eksperimen dan kelas kontrol yang
masing-masing diikuti oleh 23 dan 21 orang siswa. Tes akhir yang diberikan berbentuk
objektif sebanyak 25 butir soal. Hasil belajar siswa dapat dilihat pada tabel
2.
Tabel 2:
hasil belajar tes akhir
|
No
|
Kelas
|
N
|
Nilai terendah
|
Nilai tertinggi
|
|
S
|
S2
|
|
1
|
Eksperimen
|
23
|
50
|
96
|
76.17
|
13.15
|
173.06
|
|
2
|
Kontrol
|
21
|
46
|
80
|
69.43
|
10.22
|
104.46
|
Analisis Data
1. Uji
normalitas
Untuk
mengetahui apakah sampel terdistribusi normal atau tidak maka digunakan uji
lilifors. Dari pengujian yang dilakukan diperoleh harga Lo dan Lt
untuk kedua sampel pada taraf α = 0.05 sebagaimana terlihat pada tabel 3.
Tabel 3: harga Lo
dan Lt hasil tes akhir
|
No
|
Kelas
|
N
|
Lo
|
Lt
|
Keterangan
|
|
1
|
Eksperimen
|
23
|
0.1067
|
0.151948
|
Diterima
|
|
2
|
Kontrol
|
21
|
0.1515
|
0.190
|
Diterima
|
Dari tabel diatas
terlihat bahwa Lo pada kedua kelas sampel kecil dari Ltabel,
sehingga dapat disimpulkan bahwa data populasi kelas eksperimen terdistribusi
normal.
2. Uji
homogenitas
Dengan menggunakan persamaan homogenitas,
dilakukan uji F. Seperti dilihat pada tabel 3.
Tabel 3: harga Fhitung dan Ftabel
|
Kelas
|
N
|
S2
|
Fhitung
|
Ftabel
|
Keterangan
|
|
Eksperimen
|
23
|
173.06
|
1.66
|
2.12
|
Homogen
|
|
Kontrol
|
21
|
129.84
|
1.66
|
2.12
|
Homogen
|
Dari
tabel dapat dilihat harga Fhitung = 1.33, sedangkan harga Ftabel
yang didapat adalah F (0.05)(22,20) = 2.12. karena Fhitung
lebih kecil dari pada Ftabel sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua
kelas sampel mempunyai varians yang homogen.
3. Uji
hipotesis
Uji hipotesis dengan menggunakan uji-t,
kriteria pengujian ini adalah hipotesis nol (Ho) diterima apabila th < tt dan hipotesis nol (Ho) ditolak apabila th
> tt.
Hasil uji t yang diperoleh thitung = 2.04 sedangkan harga ttabel pada taraf nyata 0,05
dan dk = 42 didapat t(0,975)(42) =
2.02.
Berdasarkan kriteria pengujian hipotesis yaitu terima Ho
jika berada pada – t (1 – 1/2
)(dk) < thitung< t(1 – 1/2
)(dk). Harga thitung yang diperoleh
tidak berada pada daerah penerimaan Ho sehingga Ho ditolak dan Hi diterima.
PEMBAHASAN
Dari hasil analisis data tes akhir terlihat bahwa nilai
rata-rata pada kelas eksperimen adalah 76.17 dan kelas kontrol 69.43 ditinjaun
dari segi ketuntasan belajar siswa secara rata-rata, hasil belajar siswa pada
kedua kelas sampel sudah berada diatas nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM)
yang ditetapkan pihak sekolah yaitu 75.00 hal ini menunjukkan bahwa
pembelajaran dengan penerapan pembelajaran kooperatif dengan strategi contextual teaching and
learning juga dapat menuntaskan hasil belajar siswa.
ini berarti bahwa hasil belajar kelas eksperimen lebih baik dari pada hasil
belajar kelas kontrol.
Kedua kelas sampel berasal dari populasi yang normal dan
homogen sehingga untuk uji statistik yang digunakan adalah uji
t. Setelah dilakukan pengujian hipotesis melalui uji t diperoleh
harga thitung = 2.04 sedangkan nilai ttabel pada tabel distribusi t
dengan taraf nyata 0,05 dan dk = 42, diperoleh ttabel = 2,02 berarti thitung berada diluar daerah
penerimaan HO, sehingga HO ditolak dan H1
diterima. Ini berarti hipotesis “Terdapat pengaruh yang berarti penerapan pembelajaran
kooperatif dengan Strategi
contextual teaching and learning pada siswa kelas XI IA SMA
INS kayutanam pada ranah
kognitif, diterima. Dengan kata lain, terdapat pengaruh yang berarti penerapan pembelajaran
kooperatif dengan Strategi
contextual
teaching and learning pada siswa kelas XI IA SMA INS kayutanam. Diterimanya hipotesis kerja (HI) dalam
penelitian ini, mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar kedua kelas sampel
pada taraf nyata 0.05. Dan perbedaan tersebut disebabkan karena adanya pengaruh
perlakuan yang diberikan pada kelas eksperimen.
Tingginya hasil
belajar siswa di kelas eksperimen disebabkan oleh siswa yang semakin aktif
selama proses belajar mengajar berlangsung. Semua siswa akan mempunyai tugas
masing – masing sehingga semua siswa akan terlibat dalam pembelajaran.
Dalam pembelajaran dengan strategi ini, siswa memiliki tingkat keaktifan yang lebih tinggi.
Karena mereka telah mempelajari terlebih dahulu topik yang akan dibahas,
sehingga mereka lebih siap untuk belajar. Disamping itu, mereka akan saling
bertukar fikiran dengan anggota kelompoknya, demi keberhasilan kelompoknya yang
berkaitan dengan materi pelajaran yang
sedang disajikan. Selain itu, mereka mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan
yang mereka ajukan sendiri, mengupayakan pemecahan atas permasalahan yang
diajukan guru, dan tertarik untuk mendapatkan informasi atau menguasai keterampilan guru menyelesaikan
tugas yang diberikan kepada mereka.
PENUTUP
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan,
diperoleh nilai rata – rata hasil belajar fisika untuk kelas eksperimen yaitu
76.17 sedangkan nilai rata-rata untuk kelas kontrol yaitu 69.43. Ini
menunjukkan hasil belajar fisika yang pembelajarannya menerapkan pembelajaran
kooperatif dengan strategi contextual
teaching and learning lebih
baik dari hasil belajar yang pembelajarannya tidak menerapkan pembelajaran
kooperatif dengan strategi contextual
teaching and learning pada siswa kelas XI IA SMA INS kayutanam, karena Hi
diterima dengan α = 0.05 dapat disimpulkan bahwa “terdapat pengaruh penerapan
pembelajaran kooperatif dengan strategi contextual
teaching and learning pada siswa kelas XI IA SMA INS kayutanam. Penulis
memberikan saran pada peneliti agar guru
bidang studi fisika di SMA
INS kayutanam pada khususnya, dan di sekolah lain pada umumnya untuk dapat menerapkan
pembelajaran kooperatif dengan strategi CTL sebagai salah satu
alternatif untuk meningkatkan hasil belajar fisika siswa dan mengaktifkan siswa dalam belajar.
UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis
mengucapkan terimakasih kepada Ibu Lelfita, S.Pd, M.Pd sebagai pembimbing 1, Bapak Harman Amir, M.Si sebagai pembimbing 2 dan Ibu Reni Fatma Yunita S.Pd
sebagai guru mata pelajaran Fisika SMA INS Kayutanam.
DAFTAR PUSTAKA
Kesuma, dharma, dkk.
2010. Contextual
teaching and learning. Bandung : raharyasa univetsitas pendidikan Indonesia.
Lie, anita. 2002. cooperative learning. Jakarta: PT Grasindo.
Sanjaya,
wina. 2008. Strategi pembelajaran berorientasi standar proses
pendidikan. Jakarta: kencana.
Sudjana, Nana. 2009. Dasar-dasar proses belajar mengajar.
Bandung: Tarsito
Wena, made.2011. strategi pembelajaran inovatif kontemporer.
Jakarta: Bumi Aksara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar