Sabtu, 07 Juni 2014

Sepelintir objek wisaya di Sumbar

Assalamualaikum sanak saudara semuanya.....
Apo kaba Dunsanak sadonyoo,,sehatt??
hmm.. kali ini cy berbagi sedikit cerita mengenai beberapa tempat wisata di Ranah Minang. Ini baru beberapa lho,, karena masih BUANYAKKK lagi tempat yang lainnya..
Penasarannnn...??
check it out... :'D

1. DANAU KEMBAR NAN MEMPESONA (DANAU ATEH DANAU BAWAH)
Sumatera Barat (Ranah Minang) memang dikenal sangat kaya dengan objek wisata alam yang tersebar pada semua daerah kabupaten maupun kota yang ada di Sumbar, salah satunya objek wisata Danau Diatas dan Danau Dibawah yang juga dikenal dengan nama Danau Kembar. Makanya, tidak mengherankan jika Sumatera Barat juga termasuk salah satu daerah tujuan wisata di Indonesia

Di sebelah barat daya Kota Solok ada danau kembar Danau Diatas dan Danau Dibawah, yang jarak keduanya hanya beberapa ratus meter.
Jarak dari Bukittinggi adalah sekitar 130 kilometer dan diambil di sepanjang Danau Singkarak.

Setelah Solok, ambillah jalan ke Padang lalu belok kiri di Lubuk Selasih. Buah khas daerah tersebut, Markisa, djual di kios-kios kecil di tepi jalan. Jalan tersebut melalui pemandangan kebun teh.

Bila kita datang dari arah Lubuk Selasih, maka sekitar vsatu kilo menjelang sampai di rumah makan Bungo Tanjung, kita akan menyaksikan hamparan air Danau Diatas yang membiru. Alam yang sejuk, asri dan segar akan menyambut kedatangan kita untuk melepas ketegangan.

Begitu sampai di simpang masuk menuju danau tersebut, bila belok kanan kita akan langsung menuju Danau Diatas. Namun bila belok kiri, kita akan bertemu dengan Danau Dibawah. Dan di pinggiran Diatas, saat ini telah berdiri pula sebuah Convention Hall yang cukup presentatif. Kita tidak tahu, apakah gedung tersebut sudah dimanfaatkan atau belum, karena sekitar bangunan tersebut terlihat tidak terawat sama sekali dan terkesan kotor.

Tak jauh dari gedung convention hall itu, juga terlihat beberapa cottage yang juga terkesan tak pernah dihuni sama sekali. Tak diketahui secara pasti siapa pemilik cottage yang letaknya sangat strategis tersebut. Konon kabarnya cottage tersebut merupakan milik Pemkab Solok untuk disewakan kepada para pelancong. Namun kenapa cottage tersebut seperti tidak berpenghuni, tak diketahui secara pasti penyebabnya.
Bosan berada di Danau Diatas, anda bisa menuju arah Timur dan menjumpai kembarannya, yakni Danau Dibawah. Disini, panorama yang disajikan juga tak kalah indahnya dengan Danau Diatas. Sambil menikmati buah markisah yang banyak dijual orang di sepanjang jalan menjelang lokasi itu, membuat kita betah untuk berlama-lama berada disana.


2. SAWAHLUNTO SI KOTA TUA YANG MASIH ADA



Kota Sawahlunto merupakan satu-satunya kota yang memiliki perjalanan sejarah yang unik dibanding dengan sejarah kabupaten/kota lainnya di Sumatera Barat. Di samping sebuah kota yang dibesarkan oleh pemerintah kolonial Belanda, kota yang penuh dengan kekayaan batubara ini juga memiliki letak geografis yang unik.

Sejak ditemukan batubara oleh Ir De greve tahun 1867 di Batang Lunto, di bagian timur Danau Singkarak sekitar Sungai Ombilin, kawasan ini terus mengalami kemajuan. Bahkan, penelitian lanjutan yang dilakukan oleh Ir Verbek, salah seorang ahli geologi Belanda tahun 1875 telah dapat memperkirakan kandungan mutiara hitam yang ada di Sawahlunto minimal 205 juta ton. Dan, dalam waktu singkat nama kota ini sebagai penghasil batubara berkualitas terbaik menyebar ke mancanegara

Dengan ditemukannya kandungan batubara di Batang Lunto ini, maka lahirlah istilah Sawahlunto akibat pertambangan pertama yang dilakukan di sawah milik penduduk sekitar Batang Lunto. Dari tahun ke tahun Sawahlunto terus bergerak menjadi kawasan tambang batubara, sehingga berdirilah pertambangan batubara terbesar sekaligus tertua saat ini di Indonesia.

Perkembangan pertambangan batubara inilah yang membuat dinamika sejarah Kota Sawahlunto memiliki ciri khas dibanding dengan daerah lainnya. Pada tahun 1887 pemerintah Hindia Belanda tanpa ragu-ragu menanamkan 5,5 juta gulden untuk membangun berbagai fasilitas perusahaan tambag Ombilin dan pemukiman bagi para pekerjanya. Dengan fasilitas yang berkembang baik, dan ditandai oleh keberadaan Pelabuhan Teluk Bayur (Emmahaven), usaha penambangan batubara meningkat pesat. Pada tahun 1920 saja laba perusahaan mencapai 4,6 juta gulden. Batubara dari Sawahlunto ini dahulu banyak digunakan untuk memroduksi semen yang berbentuk debu dan yang dipadatkan menjadi briket.

 

3. IKON KOTA BUKITTINGGI (JAM GADANG)

Jam Gadang adalah sebutan bagi sebuah menara jam yang terletak di jantung Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat. Jam Gadang adalah sebutan yang diberikan masyarakat Minangkabau kepada bangunan menara jam itu, karena memang menara itu mempunyai jam yang “gadang”, atau “jam yang besar” (jam gadang=jam besar; “gadang” berarti besar dalam bahasa Minangkabau).

Sedemikian fenomenalnya bangunan menara jam bernama Jam Gadang itu pada waktu dibangun, sehingga sejak berdirinya Jam Gadang telah menjadi pusat perhatian setiap orang. Hal itu pula yang mengakibatkan Jam Gadang dijadikan penanda atau markah tanah Kota Bukittinggi dan juga sebagai salah satu ikon provinsi Sumatera Barat.

Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazid Sutan Gigi Ameh. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, Controleur (Sekretaris Kota) Bukittinggi pada masa Pemerintahan Hindia Belanda dulu. Peletakan batu pertama jam ini dilakukan putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berumur 6 tahun.

Denah dasar (bangunan tapak berikut tangga yang menghadap ke arah Pasar Atas) dari Jam Gadang ini adalah 13×4 meter, sedangkan tingginya 26 meter.

Jam Gadang ini bergerak secara mekanik dan terdiri dari empat buah jam/empat muka jam yang menghadap ke empat arah penjuru mata angin dengan setiap muka jam berdiameter 80 cm.

Menara jam ini telah mengalami beberapa kali perubahan bentuk pada bagian puncaknya. Pada awalnya puncak menara jam ini berbentuk bulat dan di atasnya berdiri patung ayam jantan. Saat masuk menjajah Indonesia, pemerintahan pendudukan Jepang mengubah puncak itu menjadi berbentuk klenteng. Pada masa kemerdekaan, bentuknya berubah lagi menjadi ornamen rumah adat Minangkabau.



4. JANJANG BATU BASUREK DI DASAR DANAU SINGKARAK

SEBUAH peninggalan sejarah penting yang diduga berkaitan dengan sejarah Minangkabau dan Pagaruyung terbenam di dalam Danau Singkarak. Belum ada laporan upaya penelitian dengan melakukan penyelaman sejak informasi ini dibuka pada 1970.

Tim Research Pengumpulan Data-data Sejarah Minangkabau yang diketuai Drs. Hasan Basri melaporkan dalam Seminar Sejarah dan Kebudayaan Minangkabau di Batusangkar, Agustus 1970.

Tim yang mengumpulkan berbagai informasi tentang Minangkabau dan Pagaruyung mendapatkan cerita adanya ‘batu basurek' (batu bertulis) di Batu Baraguang, Sumpur, tepi Danau Singkarak. Tapi batu tersebut sudah terbenam beberapa meter ke dalam danau.

Di bawah batu basurek tersebut ada terdapat ‘batu bajanjang' (tangga batu) yang turun ke dalam danau dan di tengah danau tangga tersebut menonjol ke atas dan turun lagi kira-kira 1 km dan naik lagi sampai ke pantai seberang Jorong Sudut Sumpur.

"Menurut kete
rangan penangkap ikan, bagian tangga yang meninggi itu hanya beberapa meter di bawah air permukaan danau, dan di kiri-kanan batu bersurat tersebut terdapat gua-gua," demikian isi laporan tim yang dikutip dari makalahnya.

Apa isi surat yang terpahat di batu itu, adakah kaitannya dengan Adityawarman, untuk apa tangga tersebut, kenapa sampai terbenam di dasar Singkarak, apakah juga karena gempa mengingat patahan Sumatera melewati danau itu? Belum ada jawabannya.

SEKIAN....
NB : buat foto nya belum di upload.. nyusul yaa biar makin penasaran,, hgehehhehe... :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar